"SELAMAT DATANG DI BLOG SMK PELAYARAN WIRA SAMUDERA"
Alamat :
Jl. Kokrosono No. 70-A Semarang - Kode Pos 50179 - Telp./Faks. (024) 3559552
Kota Semarang - Jawa Tengah

Kamis, 26 April 2012

SINTAKSIS 5 : KALIMAT EFEKTIF

Pengertian Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili gagasan pembicara atau penulis serta dapat diterima maksudnya/arti serta tujuannya seperti yang dimaksud penulis /pembicara. Kalimat efektif dapat dikatakan efektif jika kalimat tersebut berhasil menyampaikan pesan, pikiran, gagasan, perasaan pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis.
.
Ciri-ciri Kalimat Efektif
Suatu kalimat efektif harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
A.  Kesepadanan
Kesepadanan ialah keseimbangan ntara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ini diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik. Ciri – ciri kesepadanan suatu kalimat adalah:
a. Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas. Ketidakjelasan subjek atau predikat suatu kalimat tentu saja membuat kalimat itu tidak
efektif. Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya di depan subjek.
b. Tidak terdapat subjek yang ganda.
c. Kalimat penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.
d. Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.
Contoh:
1.  Bagi semua mahasiswa aktif perguruan tinggi ini diwajibkan untuk membayar uang kuliah. (salah)
.    →   Semua mahasiswa aktif perguruan tinggi ini diwajibkan untuk membayar uang kuliah. (benar)
2. Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh para dosen. (salah)
.    →   Dalam menyusun laporan itu, saya dibantu oleh para dosen. (benar)
3. Mereka datang agak terlambat. Sehingga mereka tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran. (salah)
.    →   Mereka datang agak terlambat sehingga mereka diperbolehkan mengikuti pelajaran. (benar)
.    →   Mereka datang terlambat. Oleh karena itu, mereka diperbolehkan mengikuti pelajaran. (benar)
4.  Ayah yang berangkat ke kantor.(salah)
.     →   Ayah berangkat ke kantor. (benar)
B. Keparalelan atau Kesajajaran
Keparalelan atau kesejajaran adalah kesamaan bentuk kata atau imbuhan yang digunakan dalam kalimat itu. Jika pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba. Jika kalimat pertama menggunakan kata kerja berimbuhan me-, maka kalimat berikutnya harus menggunakan kata kerja berimbuhan me- juga.
Contoh:
1.  Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan. (salah)
.     →  Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan. (benar)
.     →  Anak itu ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan. (benar)
2.  Harga sembako dibekukan atau kenaikan secara luwes. (salah)
.     →   Harga sembako dibekukan atau dinaikkan secara luwes. (benar)
C. Ketegasan
Ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan terhadap  ide pokok dari kalimat.  Untuk membentuk penekanan dalam suatu kalimat, ada beberapa cara, yaitu:
a.  Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).
Contoh:
1.  Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain.
.     →   Pada kesempatan lain, kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini.
2.  Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
.     →   Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya.
b.  Membuat urutan kata yang bertahap
Contoh:
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar. (salah)
→  Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar. (benar)
c.  Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
Cerita itu begitu menarik, cerita itu sangat mengahrukan.
d.  Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
Anak itu bodoh, tetapi pintar.
e.  Mempergunakan partikel penekanan (penegasan), seperti: partikel –lah, -pun, dan –kah.
Contoh:
1.  Dapatkah mereka mengerti maksud perkataanku?
2.  Dialah yang harus bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas ini.
D. Kehematan
Kehematan dalam kalimat efektif maksudnya adalah hemat dalam mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu, tetapi  tidak menyalahi kaidah tata bahasa. Hal ini dikaranekan, penggunaan kata yang berlebih akan mengaburkan maksud kalimat. Untuk itu, ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan untuk dapat melakukan penghematan, yaitu:
a. Menghilangkan pengulangan subjek.
b. Menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
c. Menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
d. Tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
Contoh:
1.  Karena ia tidak diajak, dia tidak ikut belajar bersama di rumahku. (salah)
.     →   Karena tidak diajak, dia tidak ikut belajar bersama di rumahku. (benar)
2.  Dia mengenakan topi warna hitam. (salah)
.     →   Dia mengenakan tpi hitam. (benar)
3.  Dia sudah menunggumu sejak dari pagi. (salah)
.     →   Dia sudah menunggumu sejak pagi. (benar)
4.  Beberapa peserta-peserta sudah didiskualifikasik. (salah)
.     →   Beberapa peserta sudah didiskualifikasi. (benar)
E. Kecermatan
Kecermatan di sini maksudnya tidak menimbulkan tafsiran ganda dan tepat dalam pilihan kata.
Contoh:
1.   Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah. (salah)
.     →   Mahasiswa dari perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah. (benar)
.     →   Mahasiswa yang terkenal di perguruan tinggi itu menerima hadiah. (benar)
2.   Dia menerima uang sebanyak dua puluh lima ribuan. (salah)
.     →  Dia menerima uang sebanyak dua puluh lima ribu rupiah. (benar)
.     →  Dia menerima uang sebanyak dua puluh lembar lima ribu rupiah. (benar)
F. Kepaduan
Kepaduan di sini maksudnya adalah kepaduan pernyataan dalam kalimat  itu, sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menciptakan kepaduan kalimat, yaitu:
1.  Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris.
2.  Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona.
3.  Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripad atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Contoh:
1.   Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang-orang kota yang telah terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu. (salah)
.      →   Kita harus mengembalikan kepribadian orang-orang kota yang sudah meninggalkan rasa kemanusiaan. (benar)
2.   Surat itu saya sudah baca. (salah)
.      →   Surat iitu sudah saya baca. (benar)
3.  Makalah ini membahas tentang teknologi fiber optik. (salah)
.     →   Makalah ini membahas teknollogi fiber optik. (benar)
G. Kelogisan
Kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat dengan mudah dipahami dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku. Hubungan unsur-unsur dalam kalimat harus memiliki hubungan yang logis/masuk akal.
Contoh:
1.  Untuk mempersingkat waktu, kami teruskan acara ini. (salah)
.     →   Untuk menghemat waktu, kami teruskan acara ini. (benar)
2.  Mayat lelaki tua yang ditemukan itu sebelumnya sering mondar-mandir di daerah tersebut. (salah)
.     →   Sebelum meninggal, lelaki tua yang mayatnya ditemukan itu sering mondar-mandir di daerah tersebut. (benar)

 ===============================================================

Subjek dan Predikat

Subjek dan predikat termasuk ke dalam unsur penyusun kalimat. Subjek merupakan unsur kalimat yang menunjukkan pelaku. Sedangkan predikat adalah bagian kalimat yang memberitahukan objek atau subjek dalam keadaan bagaimana.
1.  Subjek
Subjek dapat berupa:
a)  Kata benda atau kata yang dibendakan (frasa nominal)
Contoh:
Pertemuan itu ditunda sampai minggu depan. (Subjek : Pertemuan itu (kata benda)
Panasya sangat menyengat. (Subjek: Panasnya (kata keadaan yang dibendakan)
Mahasiswa yang pemalu itu memenangkan lomba melukis. (Subjek: Mahasiswa (frasa nominal))
b)  Subjek disertai kata penunjuk yang ditempatkan antara subjek dan predikat, dan bahkan kata ganti penunjuk itu dapat bertindak menjadi subjek dalam kalimat.
Contoh:
Perhiasannya mahal. (Subjek: Perhiasaanya)
Itu perhiasan mahal. (Subjek: Itu)
c)  Subjek berupa jawaban atas pertanyaan apa dan siapa yang.
Contoh:
Makalah itu saya serahkan.
Saya menyerahkan makalah itu.
d. Subjek ddapat didahului jkata tugas, yaitu kata depan dan kata penghubung, kecuali bahwa. Kata tugas ini berfungsi untuk memperluas kalimat.
Contoh:
Sudah kami ketahui bahwa ia tidak datang hari ini.
Telah terbukti bahwa dia mencuri.
Dari hasil laboratorium diketahui bahwa golongan darahnya adalah O.
e)  Subjek dapat diberi keternagan pewatas yang.
Keterangan pewatas yang ditempatkan di belakang atau kelompok kata yang bertindak sebagai subjek.
Contoh:
Icuk Sugianto yang juara dunia bulu tangkis tahun 1983 kalah lagi nertanding dengan Yang Yang.
David Beckham yang mantan kapten tim sepak bola Inggris sedang menjalani operasi di Finlandia.
f)  Subjek dapat dihilangkan dalam kalimat majemuk.
Contoh:
Mereka ingin pulang karena (mereka) sudah terlalu letih.
==> Mereka ingin pulang karena sudah terlalu letih.
.
2.  Predikat
Predikat dapat berupa kata atau frasa, sebagian besar berkelas verba atau ajektiva, tetapu dapat pula nomina atau frasa nominal.
a)  Predikat berupa kata (kata benda, katakerja, kata sifat, kata bilangan , dan kata depan) dan kelompok kata.
♣  Predikat berupa kata benda atau frasa nomna
Contoh:  Mereka itu mahasiswa.
♣ Predikat berupa kata kerja atau frasa verba
Contoh: Dia datang menghadiri rapat itu.
♣ Predikat berupa kata sifat atau frasa ajektiva.
Contoh:  Harga sepatu itu mahal sekali.
♣ Predikat berupa kata bilangan atau numerial.
Contoh: Jumlah penonton di stadium ini sekitar lima ribu orang.
b)  Predikat itu merupakan jawaban atas pertanyaan mengapa atau bagaimana.
Contoh:  Pertemuan itu kurang menarik.
c)  Permutasian Predikat dengan Subjek.
Contoh:  Dosen itu datang terlambat ==>  Datang terlambat dosen itu.
d)  Predikat dapat didahului kata keterangan as[ek atau modalitas.
Contoh:  Orang itu (sudah, akan,belum, telah) menjadi wartawan terkenal di ibukota.
e)   Peran predikat dalam kalimat.
♣ Pernyataan
Contoh:   Pedagang itu anak seorang nelayan. (Predikat berupa frasa nominal)
♣  Perintah
Catatan penting untuk predikat yang berperan sebagai perintah:
→  Subjek dapat ditiadakan
→  Setiap kalimat diakhiri dengan tanda seru (!)
→  Dapat berupa kata kerja tan[a imbuhan seperti, pulang,pergi, gerak, dan tenang.
→  Partikel -lah mempertegas  (kalimat) perintah.
→  Kata-kata seperti: ayo, silahkan, mari, oke, dilarang, jangan, dan harap memperhalus peran perintah menjadi ajakan, permohonan, dan larangan
Contoh:
Harap tenang!
Perhatikan baik-baik!
♣  Pertanyaan
Predikat yang berperan sebagai pertanyaan dinyatakan dengan intonasi menaik danmenurun serta tanda tanya(?) dalam kalimat tulis. Dalam peranya ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
→  Semua kelas kata atau frasa yang menempati predikat dapat menyatakan pertanyaan seperti terlihat dalam sebuah contoh
→   Partikel -kah dapat ditambahkan sebagai penekanan. Contoh:  Marahkah dia?
→   Dengan merubah intonasi, yaitu intonasi menaik atau menurun. predikat pernyataan dapat menjadi predikat pertanyaan.
Contoh:  Dia ke sini kemarin (Pernyataan).  ===>   Dia ke sini kemarin? (Pertanyaan)
→   Kata tanya seperti apa, siapa, bagaimana, mengapa, di mana, kapan dapat ditambahkan dan intonasi kalimat akan menurun.
Contoh:  Apa isi surat itu?
.
3.  Hubungan Subjek dan Predikat dengan Teori Himpunan
Keterangan:   S = Subjek  P = Predikat
Dari gambar Euler di atas, maka hubungan Subjek dan Predikat adalah:
Gambar (I) menyatakan bahwa subyek  identik dengan P (sama kedudukan).
Bentuk:  S = P ( S adalah P).
Contoh :  Semua manusia adalah makhluk sosial.
Gambar(II) menunjukkan bahwa Subjek tidak memiliki hubungan dengan Predikat.
Bentuk: Tidak ada S yang P.
Contoh:  Tidak ada cacing yang bernapas dengan paru-paru.
Gambar(III) menyatakan bahwa Subjek merupakan bagian dari Predikat atau sebagian dari Predikat adalah Subjek.
Bentuk: Semua S adalah P.
Contoh: Semua kerbau adalah binatang.
Gambar(IV) menyatakan bahwa sebagian dari Subjek adalah Predikat.
Bentuk: Beberapa S = P.
Contoh: Beberapa manusia jenius.
.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar