"SELAMAT DATANG DI BLOG SMK PELAYARAN WIRA SAMUDERA"
Alamat :
Jl. Kokrosono No. 70-A Semarang - Kode Pos 50179 - Telp./Faks. (024) 3559552
Kota Semarang - Jawa Tengah

Sabtu, 21 April 2012

Adita Nanda: “Laut Surga Bagiku”



SEBAGAI presenter tayangan Jejak Petualang, Adita Nanda dituntut bisa menghadapi tantangan alam. Mojang Priangan kelahiran Bandung, Jawa Barat, 17 Maret 1982 ini harus rela tubuh putihnya bergelut dengan peluh. Namun, dari sekian banyak perjalanan yang dilaluinya, ia lebih menyukai berpetualang di bawah laut. Hobi menyelamnya pun tersalurkan oleh tuntutan kerja.

Berpetualang di alam terbuka bagi Adita merupakan pengalaman yang sangat luar biasa. Tetapi laut baginya lebih memiliki tantangan dan daya tarik tersendiri. “Aku lebih memilih laut ketimbang shooting di wilayah pegunungan. Laut bagi aku mempunyai keindahan yang tak terlukiskan.Apalagi jika sudah melihat ke dalam,” kata wanita yang akrab disapa Adit ini kepada Indonesia Maritime Magazine.

Sejak kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), ia sudah tertarik dengan olahraga menyelam. Terlebih, Adit mengambil jurusan Biologi. Ia harus banyak memahami tentang alam, tumbuhan, binatang dan bioata laut. Tetapi karena keterbatasan dana keinginannya belum tersalurkan. “Karena mahal jadi pada saat kuliah aku belum bisa merasakan diving.Setelah bekerja aku baru merasakan, karena dituntut harus bisa. Cita-cita dari kuliah pun akhirnya tersalurkan,” ujarnya. Adit mulai menceburkan diri dalam dunia diving pada 2006.

Awalnya ia hanya keliling Indonesia dengan snorkling. “Pertama kali aku belajar di Pulau Sepa, Kepulauan Seribu. Setelah mendapat sertifikasi, laut Bali menjadi tempat persinggahan awal diving aku,” kata Adit dengan khas logat Sundanya. Pengalaman pertamanya, yaitu bertemu dengan Mola-Mola dan Matarai.

Padahal, arus di bawah laut saat itu sangat kencang. Untuk yang masih newbie tentunya masih sangat mengerikan. “Untuk menghindari yang tidak diinginkan, instrukturku selalu memberikan arahan. Pertama mental, dia selalu mengatakan ini hari terakhir. Kita diajari menyelam itu tidak bisa sembarangan karena bahaya setiap saat menanti kita,” ujar Adit.

Saat ditanya berapa tempat menyelam yang sudah dikunjunginya, Adit mengaku tidak terhitung. Mengenai tempat favorit ia lebih menyukai coral carpet, hamparan coral dengan warni-warni keindahannya. “Tempat yang paling aku suka di Raja Ampat, aku sudah dua kali ke sana. Tempat itu tidak membosankan,” tutur anak ketiga dari tiga bersaudara ini.
Pengalaman yang paling berkesan bagi Adit, yaitu saat diving di Pulau Cendrawasih. Saat menyelami keindahan bawah laut ia  ditemani tujuh ekor penyu. “Itu pengalaman seumur hidup yang tidak terlupakan. Aku juga pernah diikuti lumba-lumba. Keren banget,” ucapnya sambil tersenyum. Tetapi ada pengalaman yang mungkin tidak semua orang pernah merasakannya.
Pada waktu diving di Afrika Selatan. “Kita dimasukan ke dalam sebuah kerangkeng, lalu dicemplungin ke dalam laut. Shark dipancing sama makanan dan mereka hilir mudik. Kita bener-bener pasrah, ngeri, tapi luar biasa fantastis,” ujar Adit seraya menolak disebut sebagai master diving.

Laut Indonesia Salah Kelola
Dari pengalamannya berkunjung ke sejumlah tempat wisata, Adit melihat permasalahan yang terjadi di kawasan pantai bukanlah pencemaran. Tetapi pembangunan infrastrukur yang salah kaprah dan pengelolaan potensi wisata yang tidak profesional.
Menurut Adit, lingkungan di kawasan tempat menyelam relatif terjaga karena hanya dijamah oleh penduduk setempat dan wisatawan yang cinta dengan indahnya laut. Namun yang membuatnya prihatin adalah infrastruktur. Seperti yang terjadi di Pantai Tanjung Bira, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

“Di sana ada beton. Seharusnya jangan dibangun di kawasan pantai wisata. Ini menyebabkan keaslian alam terganggu karena pembangunan infrastruktur tidak tepat,” ungkapnya.
Menanggapi potensi wilayah Indonesia yang besar, Adit berpendapat negara ini seharusnya sudah bias menjadi bangsa yang sejahtera dan mandiri. “Ibaratnya kita sudah dikasih menu makanan jadi. Tidak perlu masak lagi atau ngolah. Tinggal kasih kecap sudah bisa dimakan. Tetapi ini kok seperti susah bisa ngembanginnya,” kata Adit.
Adit  menyarankan yang mengelola potensi laut Indonesia sebaiknya swasta. Pemerintah cukup menjadi regulator, yaitu membangun fasilitas umum dan tidak mempersulit swasta dalam mengembangkan usaha.

“Selama ini potensi wisata kita maju jika dikelola swasta. Karena konsep mereka jelas, menjaring wisatawan dengan mengembangkan potensi alam dengan baik. Tetapi kalau yang mengelola pemerintah. Lihat saja banyak lokasi wisata yang tidak terurus,” bebernya.(*)

Sumber : http://indomaritimeinstitute.org/?p=1471



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar