"SELAMAT DATANG DI BLOG SMK PELAYARAN WIRA SAMUDERA"
Alamat :
Jl. Kokrosono No. 70-A Semarang - Kode Pos 50179 - Telp./Faks. (024) 3559552
Kota Semarang - Jawa Tengah

Senin, 28 Mei 2012

Pelaut Sumbang Devisa Rp16 Triliun



http://www.fajar.co.id/img_berita/83hal2.jpgInt

JAKARTA, FAJAR -- Puluhan ribu pelaut yang dididik di Indonesia memilih bekerja di kapal-kapal asing untuk mengejar gaji tinggi. Setiap bulan mereka rata-rata mendapatkan gaji USD3.500 (sekira Rp32 juta) sehingga diperkirakan sumbangan devisa dari para pelaut itu mencapai Rp16 triliun pertahun.
"Itu kita hitung dari sekitar 28 ribu pelaut yang bekerja di luar negeri saat ini, kiriman uangnya sangat besar bahkan lebih besar dibanding devisa yang dikirim TKI setiap tahunnya," ujar Sekretaris Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan (BPSDM), Wahyu Setio Utomo kemarin. Oleh karena itu, dia menegaskan pentingnya membangun SDM transportasi untuk memenuhi kebutuhan pelaut yang begitu besar di seluruh dunia.

Wahyu menerangkan, angka perolehan devisa Rp16 triliun pertahun itu dihitung dengan asumsi gaji para pelaut Indonesia di luar negeri rata-rata USD3.500 perbulan. Meskipun gaji para pelaut di luar negeri bisa mencapai USD6.000-7.000 per bulan. "Dengan tawaran gaji sebesar itu mayoritas lulusan sekolah pelaut di Indonesia lebih senang kerja di kapal-kapal asing daripada tetap bertahan di dalam negeri," lanjutnya.

Dia berharap Indonesia bisa lebih banyak mencetak pelaut-pelaut handal yang diminati oleh kapal-kapal asing. Sebab negara-negara lain sudah bergerak cepat dengan menghasilkan pelaut sebanyak-banyaknya, dengan begitu devisa yang dihasilkan lebih besar lagi. "Kita masih kalah sama Filipina yang bisa menghasilkan 400 ribu pelaut yang bekerja di berbagai negara, itu kira-kira sepertiga pelaut dunia," tambahnya.

Oleh Karen itu pemerintah tidak berpangku tangan teyapi berusaha membangun lebih banyak sekolah pelaut diseluruh penjuru Tanah Air. Yang sedang dibangun saat ini adalah sekolah pelaut di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sorong. Sementara itu, sekolah pelaut juga akan dibangun di Sumatera Barat, Minahasa, Nusa Temggara Barat hingga Ambon,"Kits ingin lebih banyak lagi membangun sekolah yang represetatif, bukan sekolah pelaut yang abal-abal," tandasnya.

Pasalnya suplai pelaut dari sekolah milik pemerintah masih kecil. Setiap tahun diklat pelaut Kementerian Perhubungan hanya menghasilkan 1000 perwira pelaut. Angka itu sangat jauh dari kebutuhan dimana pada tahun 2014 kebuyuhan perwira pelaut mencapai 18.774 orang. Oleh sebab itu balai diklat perhubungan harus bisa menghasilkan perwira pelaut lebih banyak lagi. Untuk itu kapasitas diklat harus ditingkatkan. "Kita targetkan pada tahun 2014 diklat sudh bisa menghasilkan 3000," sebutnya.

Menteri Perhubungan EE Mangindaan sebelumnya mengatakan bahwa kebutuhan pelaut untuk kapal dalam negeri juga meningkat pesat. Apalagi sejak terbitnya Inpres No 5 tahun 2005 yang mewajibkan pelayaran antar pulau di dalam negeri wajib menggunakan kapal berbendera Indonesia. "Kita harapkan kekuarangan pelaut untuk kebutuhan di dalam negeri bisa tercukupi, meski kita untuk sementara baru mampu mencetak sekira 1000 pelaut baru tiap tahun," ungkapnya.

Ditambah dengan sekolah-sekolah pelayaran swasta, diperkirakan jumlah lulusan sekolah pelaut setiap tahun baru mencapai 1500-an orang. Padahal kebutuhan di dalam negeri mencapai 5000-an orang setaip tahun. "Jumlah kapal laut nasional saat ini mencapai 10.784 unit dengan kapasitas total 14,52 gross ton. Padahal tahun 2005 lalu jumlahnya baru 6.041 kapal dengan total 5,67 gross ton," jelasnya. (jpnn/upi)

Sekretaris Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Perhubungan Wahyu Satrio Utomo mengatakan sumbangan itu lebih besar dibandingkan dengan devisa dari tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri yang hanya Rp34 triliun per tahun.
Namun, jumlah pelaut Indonesia yang bekerja di kapal asing masih kecil ketimbang pelaut asal Filipina yang jumlahnya sekitar 400.000 orang atau mengisi sekitar sepertiga pelaut dunia.
“Kebutuhan pelaut dunia sangat besar sekali, sementara taruna yang dihasilkan oleh sekolah pelaut kita masih kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan”, katanya seperti dikutip www.depub.go.id kemarin.
Perbandingan pelaut yang bekerja
Filipina 400.000 orang
Indonesia 78.000 orang
sumber: “Bussiness indonesia”, 27 maret http://www.jakarta-maritime-consulting.com/?p=946

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar